SELARASRIAU.COM, JAKARTA – Seekor orang utan jantan dewasa bernama Sampurna ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di perkebunan kelapa sawit di Desa Laman Satong, Kalimantan Barat. Satwa dilindungi tersebut diduga mengalami gangguan pernapasan akibat terpapar asap pekat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar habitatnya.
Dilansir RRI.co.id, Sampurna ditemukan warga pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 06.00 WIB. Warga kemudian melaporkan temuan tersebut kepada petugas konservasi.
Hutama Karya Pastikan Tol di Sumatra Tetap Normal Saat Blackout PLN
Sabtu, 23 Mei, 2026Laporan itu ditindaklanjuti tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).
Staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat, Sarbandi, mengatakan petugas langsung menuju lokasi setelah menerima informasi dari masyarakat mengenai keberadaan orang utan di sekitar perkebunan.
Setibanya di lokasi, petugas menemukan Sampurna dalam kondisi lemas dan membutuhkan pertolongan.
Kemunculan Sampurna di perkebunan warga diduga berkaitan dengan karhutla yang terjadi di sekitar habitatnya. Kebakaran dan asap pekat diperkirakan membuat orang utan tersebut bergeser dari kawasan hutan untuk mencari lokasi yang lebih aman.
Gempa Bumi Dahsyat Guncang NTT Pagi Ini, Dua Orang Meninggal Dunia
Sabtu, 15 Agustus, 2026Saat proses evakuasi dilakukan pada Minggu pagi, asap dilaporkan masih cukup tebal. Kebakaran di sekitar kawasan tersebut juga disebut terjadi cukup parah sehari sebelumnya. Kondisi itu semakin menguatkan dugaan bahwa kesehatan Sampurna terganggu akibat paparan asap karhutla.
Untuk memudahkan proses evakuasi dan menjaga keselamatan petugas maupun satwa, Sampurna terlebih dahulu dibius. Dokter hewan dari YIARI kemudian memberikan pertolongan berupa oksigen dan infus karena orang utan tersebut mengalami gangguan pernapasan.
Pemeriksaan awal tidak menemukan luka terbuka maupun luka bakar pada tubuh Sampurna. Karena itu, tim menduga gangguan pernapasan yang dialaminya berkaitan dengan paparan asap.
Kondisi Sampurna selanjutnya dipantau secara intensif untuk memastikan proses pemulihannya berjalan dengan baik setelah dievakuasi dari perkebunan warga.
Dokter hewan YIARI, Komara, menjelaskan asap karhutla mengandung partikel dan berbagai zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan serta mengganggu fungsi paru-paru.
Paparan asap dalam jumlah besar dan berlangsung lama juga berisiko menyebabkan kekurangan oksigen atau hipoksia yang dapat membahayakan kondisi satwa.
Tim medis masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar dampak paparan asap terhadap kesehatan Sampurna.
Pemantauan dan pemeriksaan lanjutan juga dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih menyeluruh mengenai kondisi orang utan tersebut sekaligus menentukan penanganan berikutnya. (***)
Sumber: RRI.co.id




















