KALIMANTAN – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan. Kondisi udara memburuk hingga mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, bahkan membuat jam masuk sekolah di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, diundur.
Dampak kabut asap dirasakan antara lain di Banjarbaru, Palangka Raya hingga Pontianak. Di sejumlah wilayah, tingginya konsentrasi partikel PM2.5 menjadi perhatian karena berisiko terhadap kesehatan masyarakat.
Kondisi cukup parah terjadi di Banjarbaru. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara di daerah tersebut sempat masuk kategori berbahaya pada Rabu (19/8/2026) pagi.
Konsentrasi PM2.5 dilaporkan mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut telah melampaui batas 250,5 mikrogram per meter kubik untuk kategori berbahaya.
Kabut asap bahkan dilaporkan sangat tebal di sejumlah lokasi. Windy, warga Liang Anggang, Banjarbaru, mengatakan kebakaran lahan sudah berlangsung beberapa minggu. Namun, kondisi asap semakin parah dalam sepekan terakhir.
Asap tidak hanya menyelimuti jalan, tetapi juga masuk ke rumah warga.
“Bikin pernapasan sesak karena asap juga masuk ke dalam rumah warga yang khususnya dekat dengan kebakaran lahan dan pengendara yang melintas,” ujar Windy.
Pekatnya kabut asap juga mengganggu jarak pandang. Menurut kesaksian warga, pada kondisi tertentu jarak pandang bahkan hanya sekitar tiga meter.
Hingga Rabu sore, kebakaran lahan juga dilaporkan masih terlihat di sejumlah titik di pinggir jalan.
Kondisi kabut asap di Banjarbaru kembali memburuk pada Kamis (20/8/2026). Dampaknya mulai merambah kegiatan belajar mengajar.
Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengeluarkan surat edaran terkait penyesuaian jam masuk sekolah. Satuan pendidikan yang terdampak kabut asap dapat memulai pembelajaran pada pukul 09.00 WITA.
Sementara sekolah yang berada di kawasan dengan kabut asap lebih parah diminta melakukan penyesuaian sesuai kondisi di lapangan.
“Satuan pendidikan bisa memulai pelaksanaan pembelajaran pada pukul 09.00 WITA bagi sekolah terdampak,” kata Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru Abdul Basid.
Kabut Asap Juga Selimuti Palangka Raya
Kabut asap akibat karhutla tidak hanya terjadi di Kalimantan Selatan. Kondisi serupa juga dirasakan masyarakat Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Kabut asap mulai terlihat di sejumlah kawasan sejak Selasa (18/8/2026) pagi. Di antaranya di Jalan Tingang hingga Kecamatan Jekan Raya.
Asap mengurangi jarak pandang dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar rumah.
BPBD Kota Palangka Raya mencatat selama periode 1 Juni hingga 19 Agustus 2026 telah terjadi 298 kejadian karhutla.
Total lahan yang terbakar mencapai 261,41 hektare. Kebakaran paling banyak terjadi di Kecamatan Jekan Raya, kemudian Kecamatan Sabangau.
Pontianak Juga Dikepung Asap Karhutla
Situasi kabut asap juga terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada Kamis (20/8/2026) pagi, kualitas udara di kota tersebut dilaporkan berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan data IQAir pada pukul 06.56 WIB, indeks kualitas udara Pontianak mencapai angka 191 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 112 mikrogram per meter kubik.
Kabut asap di Pontianak tidak terlepas dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Barat.
Tercatat terdapat 4.041 titik panas di Kalimantan Barat. Dari jumlah tersebut, 3.560 berada pada tingkat menengah dan 352 titik pada tingkat tinggi.
Asap yang menyelimuti Pontianak juga disebut dipengaruhi karhutla dari sejumlah kabupaten di sekitarnya, seperti Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara dan Landak.
Pemerintah Kota Pontianak sebelumnya telah menetapkan status darurat karhutla untuk memperkuat koordinasi penanganan kebakaran sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Karhutla Mendekati Permukiman
Ancaman karhutla juga terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Data pemerintah daerah mencatat luas lahan yang terbakar telah mencapai 859,49 hektare dengan 189 kejadian karhutla dan 461 titik panas.
Kecamatan Kumai menjadi salah satu wilayah dengan dampak terbesar. Luas lahan terbakar di kecamatan tersebut mencapai 584,41 hektare.
Sementara di Kecamatan Arut Selatan, luas lahan yang terbakar mencapai 180,475 hektare.
Petugas kini memprioritaskan penanganan kebakaran yang mulai mendekati permukiman warga.
Meluasnya karhutla membuat kabut asap menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Kalimantan. Selain menurunkan kualitas udara dan mengganggu jarak pandang, dampaknya kini mulai dirasakan langsung pada aktivitas masyarakat dan kegiatan pendidikan. (Tfa)





















