Nasional

Viral Tikus Berompi Oranye Bawa Emas di Karnaval Karanganyar, Tulisan di Bajunya Bikin Sorotan

20
×

Viral Tikus Berompi Oranye Bawa Emas di Karnaval Karanganyar, Tulisan di Bajunya Bikin Sorotan

Sebarkan artikel ini

KARANGANYAR – Sebuah patung tikus berukuran besar dengan penampilan tak biasa mencuri perhatian dalam Karanganyar Eco Culture Night Carnival, Selasa (18/8/2026) malam.

Patung tikus tersebut mengenakan rompi berwarna oranye. Pada bagian rompi terdapat tulisan yang cukup mencolok, yakni “Bukan Hewan Langka Tapi Dilindungi.”

Tak hanya itu, tikus tersebut juga dibuat memegang benda menyerupai emas batangan. Sementara pada bagian saku rompinya terselip kertas bergambar mata uang asing.

Penampilan unik itu membuat kreasi warga Dusun Lor Pasar RW 5, Desa Matesih, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar tersebut menyita perhatian penonton.

Patung tikus itu ikut diarak bersama peserta lainnya melewati rute karnaval di sepanjang Jalan Lawu. Warga yang memadati lokasi pun bisa melihat langsung berbagai ornamen yang dipasang pada patung tersebut.

Di balik penampilannya yang menarik perhatian, patung tikus tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat.

Sodik, salah seorang warga, menjelaskan bahwa patung awalnya dibuat untuk memeriahkan karnaval tingkat desa.

Setelah itu, kreasi warga tersebut ditunjuk pihak desa untuk ikut serta dalam karnaval di tingkat Kabupaten Karanganyar.

Pembuatan patung juga tidak dilakukan dalam waktu singkat. Warga membutuhkan waktu sekitar 15 hari untuk menyelesaikannya.

Bahan yang digunakan relatif sederhana. Kerangka patung dibuat menggunakan bambu dan kertas. Warga juga menggunakan daun pakis yang telah diberi warna hitam untuk membuat bagian bulu tikus.

Meski penampilannya kemudian ramai diperhatikan karena rompi oranye hingga replika emas, Sodik mengatakan tema awal yang diangkat warga sebenarnya berkaitan dengan ketahanan pangan.

“Merdeka pangan, merdeka dari sampah, dan merdeka dari hama. Salah satunya hama itu kan tikus,” kata Sodik saat dihubungi, Rabu (19/8/2026).

Alasan Tikus Dipakaikan Rompi Oranye

Sodik kemudian menjelaskan bagaimana patung tikus tersebut akhirnya memiliki sejumlah ornamen tambahan.

Menurutnya, warga mendapat sejumlah referensi dari media sosial. Selain itu, ada pertimbangan efisiensi waktu dalam proses pengerjaan.

Rompi oranye kemudian dipasang pada patung tikus. Penggunaan rompi itu sekaligus membantu warga mengurangi bagian tubuh patung yang harus ditutupi bulu dari daun pakis.

Ornamen lain yang tak kalah menarik perhatian adalah benda menyerupai emas batangan yang dipegang patung tikus.

Sodik mengatakan ide menambahkan replika emas tersebut muncul setelah di media sosial sempat ramai pembahasan mengenai emas seberat 74 kilogram.

Selain replika emas, warga menambahkan kertas bergambar mata uang asing pada bagian saku rompi.

Tulisan “Bukan Hewan Langka Tapi Dilindungi” yang terpampang pada rompi juga terinspirasi dari konten yang beredar di media sosial.

Menurut Sodik, warga sebelumnya melihat kaos bergambar tikus dengan tulisan serupa.

“Di media sosial sering muncul kaos bergambarkan tikus kemudian bertuliskan seperti itu (bukan hewan langka tapi dilindungi). Akhirnya teman-teman, coba ditulis sajalah buat lucu-lucuan,” terangnya.

Ia menegaskan penambahan berbagai ornamen tersebut hanya dimaksudkan sebagai unsur lucu-lucuan dalam kreasi karnaval.

Dengan demikian, tema utama yang dibawa warga tetap berkaitan dengan ketahanan pangan, sampah dan hama.

Dibuat 15 Hari dari Bambu hingga Daun Pakis

Di balik tampilannya yang mencolok, proses pembuatan patung tikus tersebut melibatkan kreativitas warga dengan memanfaatkan sejumlah bahan sederhana.

Bambu digunakan sebagai bagian dari konstruksi patung. Kemudian terdapat kertas serta daun pakis.

Daun pakis diberi warna hitam agar menyerupai bulu tikus. Namun, proses membuat bulu tersebut membutuhkan waktu sehingga warga kemudian menggunakan rompi pada sebagian tubuh patung.

Seluruh proses pengerjaan memakan waktu sekitar 15 hari.

Awalnya, patung itu hanya disiapkan warga Dusun Lor Pasar RW 5 untuk mengikuti karnaval di tingkat Desa Matesih.

Namun, kreasi tersebut kemudian dipercaya untuk tampil pada kegiatan yang lebih besar setelah pihak desa menunjuknya mengikuti karnaval tingkat kabupaten.

Patung tikus berompi oranye itu akhirnya tampil dalam Karanganyar Eco Culture Night Carnival dan melintasi Jalan Lawu pada Selasa malam.

Perpaduan patung tikus, rompi oranye, tulisan mencolok, replika emas batangan hingga gambar mata uang asing membuat kreasi tersebut menjadi salah satu yang menyita perhatian dalam gelaran karnaval di Karanganyar.

Meski berbagai ornamen itu memunculkan beragam tafsir, pembuatnya menegaskan tambahan tersebut dibuat untuk lucu-lucuan. Sementara gagasan awal yang dibawa warga tetap mengenai “merdeka pangan, merdeka dari sampah, dan merdeka dari hama.” (***)

Sumber: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *