Travelling

Bukan Sekadar Balapan Perahu, Ini Makna Ritual Pawang yang Selalu Mengawali Pacu Jalur Kuansing

5
×

Bukan Sekadar Balapan Perahu, Ini Makna Ritual Pawang yang Selalu Mengawali Pacu Jalur Kuansing

Sebarkan artikel ini

Pepaduan antara ritual pawang, kekompakan puluhan pendayung, dan atraksi anak tari menjadikan Pacu Jalur bukan hanya perlombaan adu cepat perahu, tetapi juga pertunjukan budaya yang sarat makna.

KUANSING – Di balik riuh sorak penonton dan sengitnya persaingan di arena Pacu Jalur, tersimpan tradisi yang hingga kini masih dijaga masyarakat Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Sebelum perahu melaju membelah Sungai Batang Kuantan, setiap tim terlebih dahulu menjalani ritual yang dipimpin seorang pawang.

Ritual tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan doa bersama yang dipercaya sebagai ikhtiar memohon keselamatan bagi seluruh kru jalur selama perlombaan berlangsung.

Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Pacu Jalur. Setiap pawang memanjatkan doa agar perlombaan berjalan lancar, sungai tetap aman, serta seluruh peserta terhindar dari musibah.

“Ritual ini sudah turun-temurun di Kuantan Singingi. Pawang mendoakan agar suasana sungai tetap aman dan seluruh peserta selamat,” ujar pengurus Jalur Rajo Mudo, Ardison dikutip dari beritasatu.com

Tradisi tersebut mencerminkan kuatnya nilai spiritual yang masih melekat dalam budaya masyarakat Kuansing. Meski Pacu Jalur kini telah berkembang menjadi agenda wisata berskala nasional bahkan dikenal hingga mancanegara, prosesi adat ini tetap dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Dalam satu jalur, terdapat 61 orang yang bertugas. Sebanyak 59 orang menjadi pendayung, sementara dua lainnya merupakan anak tari atau togak luan yang berdiri di bagian depan perahu.

Tugas togak luan bukan sekadar menari. Mereka bertugas membakar semangat para pendayung melalui gerakan-gerakan penuh energi sepanjang perlombaan, sehingga menjadi salah satu daya tarik utama Pacu Jalur.

Salah seorang togak luan, Dirga, mengaku bangga mendapat kesempatan tampil bersama tim Jalur Rajo Mudo.

“Saya senang jadi tukang tari. Latihannya hanya tiga bulan bersama tim Jalur Rajo Mudo,” ujarnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *