PEKANBARU – Siapa sangka, di balik hiruk pikuk kota Pekanbaru, tersembunyi sebuah kebun yang wangi dan hijau, di mana buah melon bergantung rapi bak lampion di antara jalinan kawat dan tiang bambu. Bukan di pedesaan yang jauh, bukan pula di perbukitan nan sejuk — melainkan di Kecamatan Tenayan Raya, tepat di dalam kota.
Inilah Agrowisata Evergreen House, destinasi wisata petik buah yang mulai ramai diperbincangkan warga Pekanbaru. Tempat ini bukan sembarang kebun melon. Di sinilah pertanian modern bertemu pengalaman wisata yang hangat dan menyenangkan — sebuah perpaduan yang terbilang langka untuk ukuran kota di Riau.
Berawal dari Kegemaran, Berujung pada Kesempatan
Di balik kebun ini berdiri seorang pria bernama Indra Djaya — seorang pecinta tanaman yang tidak sekadar menyiram pot di teras rumah. Sejak lama Indra gemar bercocok tanam, hingga suatu hari kegemaran itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih serius.
“Awalnya memang murni hobi,” ceritanya saat ditemui di kebun, Kamis (28/05/2026). “Tapi saya ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda — bukan kebun biasa, tapi tempat yang bisa dinikmati banyak orang.”
Di atas lahan seluas 640 meter persegi, Indra membangun rumah tanaman yang tertata rapi. Baris demi baris tanaman melon tumbuh di bawah naungan paranet, akarnya menjulur dalam media tanam yang dirawat dengan disiplin tinggi — dari takaran pupuk, ritme penyiraman, hingga pemantauan pertumbuhan setiap harinya.
Empat Varietas yang Tidak Biasa
Yang pertama kali menarik perhatian pengunjung bukan hanya suasana kebunnya, melainkan jenis melon yang ditanam. Evergreen House membudidayakan empat varietas premium yang jarang ditemukan di pasar tradisional: Sweet Lavender, Sweet Net 9, Dalmatian, dan White Kirin.
Masing-masing punya karakter tersendiri. Sweet Lavender menonjol dengan aroma harumnya yang khas. Dalmatian tampil unik dengan kulit bermotif belang. White Kirin menghadirkan daging buah pucat kekuningan dengan tingkat kemanisan yang tinggi. Sementara Sweet Net 9 memanjakan lidah dengan tekstur yang lembut dan manis stabil.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, memilih satu varietas favorit bisa menjadi pengalaman tersendiri — semacam tur rasa dalam satu kebun.
Petik Sendiri, Pulang dengan Cerita
Daya tarik utama Evergreen House bukan sekadar membeli buah, melainkan *bagaimana* cara mendapatkannya. Konsep *open farm* yang diterapkan Indra mengundang pengunjung untuk masuk langsung ke dalam kebun, melihat dari dekat proses budidaya, bahkan memetik melon pilihan mereka sendiri langsung dari tanaman.
Bagi anak-anak, ini adalah petualangan kecil yang tidak terlupakan. Bagi orang dewasa, ini adalah jeda dari rutinitas — momen untuk bersentuhan kembali dengan proses alami di balik buah yang selama ini mereka beli tanpa pertanyaan.
“Kami ingin pengunjung tidak hanya pulang dengan buah, tapi juga dengan pengalaman,” ujar Indra.
Hasilnya berbicara sendiri. Dalam setiap musim panen, kebun ini mampu menarik sekitar 500 pengunjung — mulai dari keluarga biasa hingga tamu dari kalangan pemerintahan. Bahkan Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia sempat menyambangi kebun ini, sebuah pengakuan yang tidak kecil bagi usaha yang lahir dari hobi.
Panen yang Menggiurkan
Di balik pengalaman wisata yang ditawarkan, Evergreen House juga merupakan usaha pertanian yang sehat secara ekonomi. Rata-rata hasil panen per musim tanam mencapai **Rp 75 juta** — angka yang cukup untuk membuktikan bahwa pertanian modern bisa menjadi pilihan bisnis yang layak, bahkan di tengah kota.
Konsistensi menjadi kata kunci yang terus Indra pegang. Siklus panen dijaga agar selalu tepat waktu, kualitas buah dipertahankan dengan kemanisan yang stabil, dan area kebun selalu dijaga kebersihannya agar pengunjung betah berlama-lama.
“Wisatawan akan terus datang kalau mereka merasa nyaman dan tidak kecewa,” katanya singkat, namun penuh keyakinan.
Jika kamu sedang mencari destinasi wisata yang berbeda dari yang biasa — bukan mal, bukan kafe estetik, tapi tempat yang memberi pengalaman nyata dan cerita untuk dibawa pulang — Evergreen House di Tenayan Raya bisa menjadi jawaban yang mengejutkan.
Karena ternyata, melon termanis tidak selalu ada di supermarket. Kadang, ia menggantung diam-diam di sebuah kebun di tengah kota, menunggu untuk dipetik langsung oleh tanganmu sendiri. (tfa)













