Nasional

Profil Gus Kikin yang Terpilih Jadi Ketum PBNU Hasil Muktamar Ke-35 NU

24
×

Profil Gus Kikin yang Terpilih Jadi Ketum PBNU Hasil Muktamar Ke-35 NU

Sebarkan artikel ini

KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin resmi terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031 di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, Senin (31/8/2026) pagi.

Gus Kikin merasa bersyukur Muktamar Ke-35 NU berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir dan dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia.

“Alhamdulillah Muktamar berjalan dengan lancar, dan Pak Prabowo bisa menghadiri penutupan Muktamar Ke-35 NU ini,” jelas Gus Kikin dalam sambutannya.

Sosok Gus Kikin menjadi perhatian setelah dipilih oleh sembilan kiai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama.

Bagi Nahdliyin, nama Gus Kikin sudah tidak asing. Kiai kelahiran Jombang, Jawa Timur, ini dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Selain menjadi pengasuh pesantren, Gus Kikin menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Kiprahnya di lingkungan pesantren dan organisasi NU membuat namanya masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Silsilah dan Pendidikan Cicit Pendiri NU

Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1959. Ia merupakan putra pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.

Ia memiliki garis keturunan ulama besar NU, yakni sebagai cucu Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari.

Ayah Gus Kikin, KH Mahfudz Anwar (1912-1999), dikenal sebagai ulama ahli fikih, tafsir, gramatika Arab, serta pakar ilmu falak. Ia merupakan keturunan KH Anwar Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Pesantren tersebut berada dalam kawasan yang memiliki hubungan historis dengan Tebuireng dan Seblak.

Sementara dari garis ibu, Gus Kikin memiliki hubungan dengan keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Nyai Abidah Maksum merupakan putri KH Maksum bin Ali dan Nyai Khoiriyah Hasyim.

KH Maksum bin Ali dikenal sebagai ulama ahli falak dan penulis kitab Amtsilah at-Tashrifiyah, sedangkan Nyai Khoiriyah merupakan putri KH Hasyim Asy’ari. Dengan garis keturunan tersebut, Gus Kikin merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari.

Pendidikan agama dasar Gus Kikin ditempuh di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Jombang.

Meski tumbuh dalam tradisi pesantren, jalur pendidikan formal Gus Kikin terbilang unik untuk ukuran anak kiai.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Jombang, yakni SDN Parimono, SMPN 1 Jombang dan SMAN 2 Jombang, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada 1975–1979.

Di kemudian hari, ia juga menyelesaikan pendidikan Sarjana Komunikasi di Universitas Terbuka pada 2013.

Memilih Pelayaran dan Menjadi Pengusaha

Setelah lulus dari perguruan tinggi, Gus Kikin tidak langsung kembali ke pesantren. Ia memilih berlayar dan kemudian menjadi pengusaha.

Usai menjalani praktik pelayaran selama tiga tahun, ia bergabung dengan PT Djakarta Lloyd dan dipercaya menjadi Kepala Cabang Cilegon pada 1988 di usia 30 tahun.

Pada 1998, ia mulai mendirikan berbagai perusahaan di Surabaya dan melebarkan ekspansinya ke Jakarta pada 2000.

Catatan menunjukkan ia mengendalikan hingga 22 perusahaan yang bergerak di bidang transportasi, kontraktor, teknologi informasi, komoditas seperti pinang dan minyak atsiri, hingga media penyiaran melalui PT Bama Berita Sarana (BBS Group).

Di sektor energi, Gus Kikin mendirikan PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas bumi. Rekam jejak bisnisnya juga membawanya aktif dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Pengalaman menjadi pengusaha berskala nasional memberikan perspektif manajerial bagi Gus Kikin yang kemudian menjadi modal dalam mendorong kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

Diberi Amanah Memimpin Pesantren

Perjalanan Gus Kikin dari dunia pelayaran dan usaha kemudian membawanya kembali ke lingkungan pesantren.

Ia dipanggil untuk membantu KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah sebagai Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng pada 2016.

Pascawafatnya Gus Sholah pada 2020, Gus Kikin resmi menjabat sebagai Pengasuh ke-8 Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Berkhidmah di PWNU Jatim dan PBNU

Dalam perjalanan pengabdiannya di NU, Gus Kikin mendapat berbagai amanah organisasi.

Pada Muktamar NU 2022, ia menjadi salah satu Ketua PBNU bidang ekonomi.

Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua PWNU Jawa Timur secara definitif menggantikan KH Marzuqi Mustamar dan selanjutnya terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.

Pada Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026), Gus Kikin akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.

Sumber: NU Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *