Nasional

Ketegangan AS–Iran Dorong Harga Minyak Naik Signifikan

2
×

Ketegangan AS–Iran Dorong Harga Minyak Naik Signifikan

Sebarkan artikel ini

HARGA minyak dunia kembali melonjak tajam dan mendekati level psikologis US$ 120 per barel pada perdagangan Kamis (30/4/2026). Lonjakan ini dipicu ketegangan berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Mengutip laporan Reuters, minyak jenis Brent untuk kontrak Juni tercatat naik 1,62% ke level US$ 119,94 per barel, setelah sebelumnya sempat melesat lebih dari 6% pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara kontrak Juli berada di kisaran US$ 111,38 per barel.

Kenaikan juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menguat 0,59% ke posisi US$ 107,51 per barel, melanjutkan tren penguatan signifikan setelah sebelumnya melonjak sekitar 7%.

Lonjakan harga ini tak lepas dari kebuntuan negosiasi konflik di kawasan Timur Tengah. Upaya diplomatik antara AS dan Iran belum menemukan titik temu, memicu kekhawatiran serius terhadap terganggunya pasokan energi global dalam waktu yang lebih panjang.

Situasi semakin memanas setelah muncul laporan bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan perpanjangan blokade terhadap pelabuhan Iran. Kebijakan ini berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia, terutama di Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi global.

Para analis menilai peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat masih kecil. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan tekanan terhadap pasokan minyak akan terus berlanjut.

Dari sisi suplai, kelompok produsen minyak OPEC+ diperkirakan hanya akan menambah produksi secara terbatas, sekitar 188.000 barel per hari dalam pertemuan mendatang—jumlah yang dinilai belum cukup untuk menahan laju kenaikan harga.

Di sisi lain, keputusan Uni Emirat Arab keluar dari OPEC mulai 1 Mei juga dinilai dapat memengaruhi dinamika pasar, meskipun dampaknya terhadap fundamental jangka pendek disebut tidak terlalu signifikan.

Analis memperkirakan negara-negara kawasan Teluk membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan produksi ke level normal sebelum konflik, terlebih dengan masih terganggunya jalur distribusi utama.

Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil, pasar energi global kini berada dalam tekanan tinggi, dan potensi kenaikan harga minyak masih terbuka lebar dalam waktu dekat. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *