Ekonomi

Inhil Produksi 6 Juta Butir Kelapa per Hari, Pemda Tak Ingin Lagi Hanya Dijual Mentah

22
×

Inhil Produksi 6 Juta Butir Kelapa per Hari, Pemda Tak Ingin Lagi Hanya Dijual Mentah

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi produk olahan kelapa. (ai)

RIAUTIMES.COM, PEKANBARU – Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) memiliki potensi kelapa dalam jumlah besar. Dengan luas perkebunan lebih dari 435 ribu hektare, produksi kelapa di daerah tersebut disebut mencapai sekitar enam juta butir setiap hari.

Besarnya produksi itu kini ingin diikuti dengan pengembangan industri pengolahan. Pemerintah tidak ingin kelapa yang dihasilkan petani hanya dikirim keluar daerah dalam bentuk kelapa bulat tanpa memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

Hilirisasi menjadi salah satu langkah yang didorong. Kelapa diharapkan bisa diolah menjadi berbagai produk sebelum dipasarkan, mulai dari minyak goreng dan produk pangan hingga pemanfaatan sabut serta limbahnya menjadi pupuk dan bahan pengembangan bioenergi.

Bupati Indragiri Hilir, Herman, mengatakan kelapa selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat Inhil. Dengan produksi yang mencapai jutaan butir setiap hari, menurutnya potensi tersebut seharusnya bisa memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

“Di Indragiri Hilir terdapat lebih dari 435 ribu hektare kebun kelapa dengan produksi kurang lebih enam juta butir per hari. Potensi sebesar ini seharusnya tidak hanya dikirim keluar daerah dalam bentuk kelapa bulat, tetapi perlu didorong masuk ke proses hilirisasi agar nilai tambahnya kembali kepada masyarakat,” ujar Herman, Selasa (8/9/2026).

Dorong Kelapa Diolah di Daerah

Menurut Herman, pengembangan industri pengolahan tidak harus langsung dilakukan dalam skala besar. Hilirisasi dapat dimulai secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan dan potensi yang dimiliki daerah.

Salah satu produk yang berpeluang dikembangkan adalah minyak goreng berbahan kelapa. Selain itu, kelapa juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan hanya menjualnya dalam kondisi utuh.

Pengolahan tersebut diharapkan membuka peluang usaha baru sekaligus menciptakan pasar yang lebih luas bagi hasil perkebunan masyarakat.

Tidak hanya buahnya, bagian kelapa yang selama ini dianggap sebagai limbah juga dinilai memiliki potensi ekonomi.

Sabut dan limbah hasil pengolahan kelapa, misalnya, dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk maupun dikembangkan sebagai bahan untuk bioenergi.

“Kita berharap program hilirisasi dapat dimulai dari skala yang sesuai dengan kemampuan daerah, termasuk pengolahan menjadi minyak goreng dan produk lainnya. Sabut dan limbah kelapa juga jangan sampai terbuang, karena dapat dimanfaatkan menjadi pupuk maupun bahan untuk pengembangan bioenergi,” katanya.

Kuala Selat Masuk Pengembangan Hilirisasi

Rencana penguatan hilirisasi tersebut ikut dibahas dalam Rapat Koordinasi Dukungan Penataan Desa Kuala Selat bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI.

Rapat berlangsung secara virtual dari Ruang Rapat Sekretaris Daerah di Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, Selasa (8/9/2026).

Dalam pembahasan tersebut, potensi kelapa menjadi salah satu sektor ekonomi yang dinilai dapat dikembangkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir, khususnya di Desa Kuala Selat.

Pemerintah daerah ingin penataan desa tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur. Potensi ekonomi yang sudah dimiliki masyarakat juga harus dikembangkan sehingga dapat memberikan sumber pendapatan yang lebih besar.

Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, mengatakan pengembangan komoditas unggulan harus menjadi bagian dari penataan desa secara menyeluruh.

Menurutnya, hilirisasi juga membutuhkan dukungan sektor lain, mulai dari infrastruktur, akses pembiayaan hingga keterlibatan pemerintah pusat.

“Penataan desa tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana potensi ekonomi masyarakat dapat dikembangkan. Karena itu, seluruh usulan yang berkaitan dengan kelapa, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi perlu kita konsolidasikan agar dapat memperoleh dukungan program dari pemerintah pusat,” jelas Syahrial.

Nilai Tambah Diharapkan Kembali ke Masyarakat

Dengan hilirisasi, kelapa yang dihasilkan petani diharapkan tidak langsung meninggalkan daerah sebagai bahan mentah. Sebagian produksi dapat masuk ke industri pengolahan sehingga tercipta produk baru dengan nilai jual lebih tinggi.

Pengembangan industri tersebut juga diharapkan membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan serta menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar sentra perkebunan.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan koperasi sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Koperasi dapat menjadi bagian dari rantai produksi hingga pemasaran produk olahan kelapa apabila program hilirisasi mulai dikembangkan.

“Kita ingin potensi kelapa yang besar ini memberikan nilai tambah di daerah asalnya. Dengan dukungan program pemerintah dan penguatan koperasi sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat, kita berharap pengembangan kelapa dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kuala Selat,” kata Syahrial.

Dengan luas perkebunan lebih dari 435 ribu hektare dan produksi sekitar enam juta butir per hari, tantangan Inhil ke depan bukan hanya menjaga produksi kelapa tetap tinggi. Pemerintah juga perlu memastikan potensi tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sehingga manfaat ekonominya lebih banyak tinggal dan berputar di daerah. (Wam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *