PEKANBARU – Pelaku UMKM dan petani di Riau berpeluang mendapatkan pasar yang lebih luas setelah Misi Dagang dan Investasi antara Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur membukukan transaksi senilai Rp775 miliar.
Kerja sama ini tidak hanya mempertemukan pelaku usaha dari kedua daerah, tetapi juga membuka peluang pemasaran berbagai produk unggulan Riau ke Jawa Timur. Pemerintah berharap manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat melalui meningkatnya penjualan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, hingga usaha kecil.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan nilai transaksi yang tercatat dalam misi dagang mencapai Rp775 miliar. Menurutnya, hubungan ekonomi kedua provinsi semakin kuat karena saling melengkapi kebutuhan masing-masing.
Jawa Timur memasok berbagai kebutuhan pokok ke Riau, mulai dari beras, pupuk, bawang merah, olahan daging, susu, sarden kaleng, teh, hingga bibit sapi. Sebaliknya, Riau menjadi pemasok komoditas unggulan seperti udang vaname, arang, kelapa sawit, dan produk turunannya.
Khofifah mengungkapkan kebutuhan industri di Jawa Timur terhadap produk sawit dari Riau sangat besar. Sepanjang 2025 saja, nilai pembelian produk sawit dari Riau telah menembus lebih dari Rp9 triliun.
“Kebutuhan palm cukup tinggi. Bahkan pada tahun 2025 Jawa Timur membeli palm lebih dari Rp9 triliun. Karena kebutuhan palm di Jawa Timur banyak dipasok dari Riau,” ujarnya.
Ke depan, kerja sama kedua provinsi juga akan diperluas ke sektor pendidikan, pertanian, peternakan, investasi, hingga kebudayaan.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai perdagangan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Menurutnya, Riau tidak ingin hanya menjadi daerah tujuan pemasaran produk dari luar. Sebaliknya, pelaku usaha lokal juga harus memperoleh akses pasar yang lebih luas sehingga mampu meningkatkan daya saing.
“Riau tidak menjadi pasar, tetapi melalui kerja sama ini ada yang dijual dan ada yang dibeli. Kita ingin ini menjadi peluang bagi UMKM agar bisa naik kelas,” katanya.
Syahrial menjelaskan, Jawa Timur memiliki kekuatan sebagai pusat industri, perdagangan, pangan, hortikultura, peternakan, dan industri pengolahan. Sementara Riau unggul di sektor perkebunan kelapa sawit, CPO, kelapa, sagu, pulp, dan kertas.
Menurutnya, keunggulan kedua daerah tersebut saling melengkapi sehingga mampu memperkuat rantai pasok nasional sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha di daerah.
Dalam rangkaian misi dagang tersebut, kedua pemerintah provinsi juga menandatangani 11 perjanjian kerja sama yang mencakup sektor perdagangan, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, UMKM, investasi, hingga penguatan organisasi pengusaha perempuan di kedua provinsi. (***)





















