PEKANBARU — Langit malam di Kampus Universitas Riau, Minggu (10/5/2026), tampak redup. Di tengah halaman terbuka yang hanya diterangi cahaya proyektor dan lampu seadanya, ratusan mahasiswa duduk rapat di atas paving block. Sebagian bersila, sebagian lainnya bersandar sambil menatap layar putih besar di depan gedung kampus.
Tak banyak suara terdengar. Hanya sesekali terdengar bisik pelan dan desahan napas panjang ketika adegan demi adegan dalam film dokumenter Pesta Babi diputar.
Suasana itu terekam jelas dalam kegiatan nonton bareng (nobar) yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Riau (Unri). Di bawah rindangnya pepohonan kampus, ratusan mahasiswa larut dalam satu ruang sunyi—bukan sekadar menonton film, tetapi menyaksikan kisah tentang tanah, hutan, dan perjuangan masyarakat adat Papua mempertahankan ruang hidup mereka.
Bagi banyak peserta, malam itu bukan sekadar agenda kampus. Ia berubah menjadi ruang refleksi.
“Suasananya sangat hening. Semua fokus. Ada rasa marah, sedih, tapi juga tersadar setelah menonton,” ujar salah satu mahasiswa peserta diskusi.
Apa itu Film Pesta Babi?
Pesta Babi adalah film dokumenter investigatif produksi kolaborasi Watchdoc, Jubi Media, Greenpeace Indonesia, Ekspedisi Indonesia Baru, dan Pusaka Bentala Rakyat. Film ini disutradarai oleh Dandhy Laksono bersama Cypri Paju Dale.
Berbeda dengan film layar lebar fiksi, Pesta Babi tidak menghadirkan aktor profesional. “Pemain” utamanya adalah masyarakat adat Papua sendiri—warga yang mengalami langsung dampak perubahan di tanah mereka. Mereka tampil sebagai narator kehidupan nyata: petani, tokoh adat, perempuan kampung, hingga anak-anak Papua yang hidup di tengah ancaman kehilangan tanah leluhur.
Alur Cerita: Dari Ritual Adat ke Ancaman Deforestasi
Film berdurasi sekitar 95 menit ini membawa penonton masuk ke Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, wilayah Papua Selatan yang kini menjadi sorotan karena proyek pembukaan lahan skala besar.
Cerita dibuka dengan ritual adat masyarakat Muyu: Awon Atatbon, atau pesta babi. Dalam budaya Papua, babi bukan sekadar hewan ternak. Ia adalah simbol kehormatan, relasi sosial, spiritualitas, sekaligus identitas budaya.
Namun simbol itu kemudian dijadikan metafora besar dalam film: ketika hutan hilang, bukan hanya pohon yang tumbang—tetapi juga budaya, sejarah, dan masa depan sebuah masyarakat.
Setelah pembukaan yang kuat secara simbolik, film bergerak ke lapangan-lapangan terbuka yang dulunya hutan. Kamera menunjukkan pembabatan lahan, alat berat, suara mesin, dan kesaksian warga yang mulai kehilangan sumber pangan tradisional mereka.
Di sinilah kekuatan Pesta Babi: bukan hanya menghadirkan data, tetapi emosi.
Penonton dipaksa melihat bagaimana pembangunan nasional—yang sering dibungkus jargon “ketahanan pangan” dan “energi nasional”—bisa dibaca berbeda oleh masyarakat lokal: sebagai ancaman terhadap ruang hidup mereka.
Makna Besar di Balik Judul “Pesta Babi”
Judul film ini bukan dipilih sembarangan.
Dalam masyarakat adat Papua, pesta babi adalah momen penting—simbol persatuan, penghormatan, dan kekuatan komunitas. Dalam film, simbol itu dipakai untuk menunjukkan bahwa masyarakat adat tidak sedang “melawan pembangunan”, tetapi sedang mempertahankan martabat dan identitasnya.
Pesan yang ingin disampaikan para pembuat film jelas: pembangunan tidak boleh menghapus manusia yang hidup di atas tanah itu lebih dulu.
Siapa Dandhy Laksono?
Nama Dandhy Laksono bukan sosok baru dalam dunia film dokumenter kritis Indonesia. Ia dikenal lewat sejumlah karya seperti Sexy Killers (2019) dan Dirty Vote (2024), yang sama-sama memantik perdebatan nasional.
Dandhy dikenal konsisten mengangkat isu lingkungan, demokrasi, dan hak masyarakat adat melalui medium film dokumenter.
Sementara Cypri Paju Dale memberi perspektif lokal Papua yang kuat dalam film ini—membuat narasi Pesta Babi terasa lebih dekat dengan suara masyarakat di lapangan.
Mengapa Film Ini Kontroversial?
Sejak diputar perdana pada Maret 2026, Pesta Babi telah diputar di ratusan lokasi di Indonesia.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, pemutaran film ini menuai kontroversi setelah sejumlah acara nobar di beberapa daerah dibubarkan, termasuk di Universitas Mataram dan Ternate. Alasan yang muncul beragam: mulai dari kekhawatiran soal isu sensitif Papua hingga alasan keamanan dan ketertiban.
Di sisi lain, banyak kelompok masyarakat sipil menilai pembubaran itu justru memunculkan pertanyaan besar tentang ruang kebebasan akademik dan kebebasan berekspresi di Indonesia.
Bagi pendukungnya, Pesta Babi adalah karya jurnalistik visual yang membuka ruang diskusi tentang Papua.
Bagi pengkritiknya, film ini dinilai terlalu tajam mengkritik negara dan berpotensi memicu polemik politik.
Perdebatan itu justru membuat film ini semakin banyak dicari dan ditonton.
Dari Pekanbaru untuk Papua
Di Universitas Riau, film itu tidak dibubarkan. Tidak ada gangguan.
Yang ada justru keheningan panjang, diskusi larut malam, dan mahasiswa yang pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Di bawah langit malam kampus Unri, Pesta Babi berhasil melakukan apa yang seharusnya dilakukan film dokumenter terbaik: membuat orang berhenti sejenak, lalu berpikir lebih dalam. (***)
















