PEKANBARU – Usaha kripik singkong rumahan milik Yukhonis atau Ibu Elis di Kota Pekanbaru berhasil berkembang hingga mencatat omzet sekitar Rp15 juta per bulan dan menembus pasar internasional, termasuk Malaysia dan Belanda.
Usaha yang diberi nama Kripik Singkong Aira itu diproduksi di rumahnya di Jalan Suka Karya, Perumahan Asta Karya, Kelurahan Tuah Karya, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru.
Elis mengaku mulai merintis usaha tersebut setelah memutuskan berhenti bekerja sebagai karyawan hotel pada 2013 untuk fokus mengurus keluarga.
Sebelum menekuni usaha kripik singkong, ia sempat mencoba berjualan bakpia dan getuk goreng, namun usaha tersebut tidak berkembang.
Atas saran keluarganya, Elis kemudian mencoba mengolah singkong menjadi kripik. Namun, pada awal usaha, produk yang dihasilkan belum memenuhi harapan karena tidak renyah dan mudah melempem.
Ia pun terus melakukan berbagai percobaan hingga akhirnya berhasil menghasilkan kripik singkong yang renyah dan tahan lama. Sejak saat itu, usaha Kripik Singkong Aira mulai berkembang dan mendapat respons positif dari pasar.
Saat ini, usaha tersebut mampu memproduksi sekitar 70 kilogram kripik singkong per hari. Dalam proses produksi, Elis dibantu oleh suaminya, Irfan Masri, serta sejumlah warga sekitar saat permintaan meningkat.
Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha tersebut juga membuka peluang kerja bagi masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
Untuk pemasaran, Kripik Singkong Aira dijual melalui jaringan reseller, dititipkan di berbagai toko dan rumah makan, serta dipromosikan secara daring. Menurut Elis, reseller masih menjadi saluran pemasaran terbesar produknya.
“Yang paling banyak memang diambil reseller,” ujarnya.
Berkat kualitas produk yang terus dijaga, kripik singkong produksi rumahan tersebut kini telah dipasarkan hingga ke luar negeri.
“Sudah sampai ke Malaysia dan Belanda,” kata Elis. (***)











