PEKANBARU — Aroma roti hangat menyeruak dari di dapur samping rumah milik Oktanius Lawolo (32) di Perumahan Alifa, Jalan Sentosa, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tuah Madani Pekanbaru, Selasa (16/6/2026)
Di tengah hawa panas yang keluar dari tungku oven, ayah dua anak itu dengan cekatan menarik loyang berisi puluhan roti yang baru matang.
Wajahnya berkeringat. Tangannya yang kasar bergerak cepat memindahkan roti-roti yang mengembang sempurna ke rak pendingin. Bagi pelanggan, roti itu mungkin hanya camilan untuk menemani secangkir kopi pagi. Namun bagi Oktanius, setiap roti yang keluar dari oven membawa cerita panjang tentang perjuangan, kegagalan, dan tekad seorang ayah untuk mempertahankan keluarganya.
Tiga tahun lalu, hidupnya jauh berbeda.
Saat itu, Oktanius bekerja di sebuah toko roti di Pekanbaru. Ia sudah terbiasa bergelut dengan tepung, gula, ragi, dan panasnya oven. Namun suatu hari, pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga itu hilang begitu saja.
Ia dipecat.
Bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan mungkin hanya berarti kehilangan gaji bulanan. Namun bagi Oktanius, itu berarti hilangnya kepastian tentang bagaimana ia harus memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.
Hari-hari berikutnya tidak mudah. Pikiran tentang biaya hidup dan masa depan keluarga terus menghantuinya. Namun di tengah ketidakpastian itu, satu hal yang tidak pernah hilang adalah keterampilannya membuat roti.
Ia lalu mengambil keputusan besar.
Jika tidak ada lagi tempat bekerja, maka ia harus menciptakan pekerjaannya sendiri.
Di dapur sederhana rumahnya, ia mulai kembali meracik adonan. Tidak ada peralatan mahal. Hanya oven kecil, mixer lama, dan perlengkapan seadanya. Berbulan-bulan ia menghabiskan waktu bereksperimen mencari resep yang tepat. Kegagalan datang silih berganti.
Kadang adonan terlalu cair. Kadang roti tidak mengembang. Ada pula yang bantat dan gagal dijual. Namun Oktanius tidak berhenti.
“Kalau ingat anak-anak, rasa capek itu hilang seketika,” katanya.
Alih-alih langsung berjualan, ia memilih membagikan hasil rotinya kepada tetangga, teman, dan jemaat gereja. Ia meminta mereka mencicipi dan memberikan penilaian jujur.
Dari kritik dan masukan itulah resep demi resep terus diperbaiki.
Hingga pada awal 2023, ia merasa cukup yakin untuk memulai usaha sendiri yang diberi nama Haga Bakery.
Awalnya pesanan datang sangat sedikit. Bahkan ada hari-hari ketika tidak ada pembeli sama sekali.
Namun Oktanius tetap bertahan.
Setiap pelanggan yang datang dilayani sepenuh hati. Sedikit demi sedikit, kualitas roti yang konsisten membuat pelanggan mulai berdatangan kembali. Ada yang membeli untuk konsumsi keluarga, ada pula yang menjualnya kembali.
Usahanya perlahan tumbuh. Tetapi tantangan baru muncul.
Permintaan semakin banyak, sementara kapasitas produksi tidak mampu mengimbangi. Oven kecil dan peralatan lama membuat proses produksi berjalan lambat. Di saat yang sama, harga bahan baku terus naik.
Ia kembali dihadapkan pada pilihan sulit.
Untuk pertama kalinya, Oktanius memberanikan diri mengajukan pembiayaan usaha ke bank milik negara. Keputusan yang sempat membuatnya ragu itu justru menjadi titik balik penting dalam perjalanan Haga Bakery.
Dengan tambahan modal, ia membeli oven yang lebih besar, mengganti mixer lama, dan memperbaiki kemasan produknya.
Perubahan itu langsung terasa.
Produksi meningkat. Pesanan bertambah. Pendapatan yang sebelumnya hanya sekitar Rp1,5 juta per bulan perlahan naik hingga mencapai Rp7 juta per bulan.
Bagi sebagian orang, angka tersebut mungkin tidak terlalu besar. Namun bagi Oktanius, itu adalah bukti bahwa kerja kerasnya selama bertahun-tahun tidak sia-sia.
Lebih dari sekadar omzet, keberhasilan itu membawa perubahan nyata bagi keluarganya.
Anak-anaknya bisa bersekolah dengan lebih tenang. Kebutuhan rumah tangga lebih terpenuhi. Dan yang terpenting, ia berhasil membuktikan bahwa kehilangan pekerjaan bukanlah akhir dari segalanya.
Kini setiap dini hari, saat sebagian besar orang masih terlelap, lampu dapur Haga Bakery sudah menyala. Oktanius kembali sibuk dengan adonan tepung, takaran gula, dan panasnya oven.
Rutinitas yang melelahkan itu tidak pernah ia keluhkan.
Sebab ia tahu, dari dapur sederhana itulah harapan keluarganya terus dipanggang setiap hari.
“Saya bahagia karena ini usaha keluarga,” ujarnya. (***)













