INDRAGIRI HILIR — Potret kondisi sebuah sekolah dasar di pelosok Riau mendadak viral di media sosial. Video dan foto yang beredar memperlihatkan suasana belajar mengajar di bangunan kayu sederhana yang jauh dari kata layak.
Konten tersebut pertama kali ramai dibagikan akun Instagram dan dikutip dari Indozone.id, yang menyoroti kondisi SD marginal Tasik Pilang di Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir.

Dalam video yang beredar, terlihat siswa-siswi belajar di dalam ruang kelas berdinding papan kayu yang sudah lapuk. Meja dan kursi tampak seadanya, sementara lantai papan terlihat usang. Bahkan, satu ruangan digunakan oleh dua kelas sekaligus tanpa sekat pemisah.
Akibatnya, suara guru dari masing-masing kelas bercampur, membuat suasana belajar kurang kondusif. Meski begitu, para siswa tetap mengikuti pelajaran seperti biasa.
Sekolah tersebut diketahui hanya memiliki tiga ruangan. Keterbatasan ini membuat setiap ruangan harus menampung lebih dari satu kelas. Kondisi ini pun menuai perhatian luas dari warganet.
Sekolah ini merupakan cabang dari sekolah induk yang lokasinya cukup jauh dari desa. Akses yang sulit membuat keberadaan sekolah marginal ini menjadi satu-satunya pilihan agar anak-anak tetap bisa bersekolah.
Viralnya kondisi sekolah ini langsung memicu beragam reaksi dari netizen. Banyak yang menyayangkan masih adanya fasilitas pendidikan yang jauh dari layak, terutama di daerah yang dikenal sebagai penghasil sumber daya alam.
Beberapa komentar pedas pun bermunculan:
sophia_agu*: “Nih @gerindra lihatttttttlahhh… Negara ini jauh lebih butuh gedung sekolah, guru ketimbang MBG”
febriekasari*: “Ternyta d Riau masih ada yg kayak gni, RIAU? atas minyak bawah minyak loh kita ni
chnik*: “Bangun dapur mbg bisa, bangun kopdes bisa, bangun sekolah g bisa. jadi sebenernya negara kita bisa bangun sekolah hanya tidak mau ”
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kondisi sekolah tersebut. Namun, viralnya potret ini kembali membuka perhatian publik soal kesenjangan fasilitas pendidikan di daerah terpencil.
Di tengah keterbatasan, para siswa dan guru tetap menjalankan proses belajar mengajar setiap hari. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pemerataan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. (***)




