Regional

Pekanbaru Temukan 3.605 Kasus TBC, Mengapa Angkanya Terus Dikejar?

27
×

Pekanbaru Temukan 3.605 Kasus TBC, Mengapa Angkanya Terus Dikejar?

Sebarkan artikel ini

RIAUTIMES.COM, PEKANBARU – Kasus TBC Pekanbaru 2026 yang berhasil ditemukan telah mencapai 3.605 kasus hingga 20 September. Jumlah tersebut setara 68,2 persen dari target penemuan sebanyak 5.280 kasus sepanjang tahun ini.

Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru kini terus memperluas penjaringan kasus, baik melalui fasilitas pelayanan kesehatan maupun pencarian aktif di tengah masyarakat. Tujuannya bukan sekadar mengejar angka, tetapi menemukan penderita secepat mungkin agar pengobatan dapat dimulai dan risiko penularan bisa ditekan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru Hazli Fendriyanto mengatakan, selain ribuan kasus yang sudah terdiagnosis, petugas juga telah menjaring 15.395 orang terduga TBC. Jumlah tersebut mencapai 54,6 persen dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebanyak 28.220 orang.

“Hingga 20 September tahun ini, sebanyak 3.605 kasus baru sudah ditemukan dari target 5.280 kasus. Selain itu, sebanyak 15.395 orang terduga TBC telah ditemukan melalui Standar Pelayanan Minimal (SPM), atau 54,6 persen dari target 28.220 orang,” kata Hazli, Senin (28/9/2026).

Mengapa Kasus TBC Justru Harus Dicari?

Sekilas, bertambahnya jumlah kasus TBC yang ditemukan bisa menimbulkan kekhawatiran. Namun dalam program pengendalian tuberkulosis, tingginya penemuan kasus tidak otomatis berarti terjadi lonjakan penularan pada periode yang sama.

Sebagian penderita TBC dapat berada di tengah masyarakat tanpa terdiagnosis. Ketika kasus tersebut ditemukan melalui pemeriksaan aktif, pasien dapat segera mendapatkan pengobatan sekaligus mengurangi risiko menularkan penyakit kepada orang lain. Inilah alasan pemerintah memperkuat pencarian kasus dan pelacakan kontak erat.

Kementerian Kesehatan pada Juli 2026 bahkan menetapkan strategi untuk mengejar pelacakan 100 persen keluarga dan kontak erat pasien TBC sebagai salah satu langkah mempercepat eliminasi TBC pada 2030. Pemeriksaan diperluas melalui fasilitas kesehatan, Cek Kesehatan Gratis, rontgen portabel, hingga tes cepat.

Artinya, dalam konteks program kesehatan masyarakat, menemukan kasus yang selama ini belum terdeteksi menjadi bagian penting dari upaya memutus rantai penularan.

Pekanbaru Masih Harus Menemukan 1.675 Kasus dari Target

Dengan capaian 3.605 kasus dari target 5.280 kasus, secara matematis Pekanbaru masih memiliki selisih sekitar: 5.280 – 3.605 = 1.675 kasus ntuk mencapai target penemuan yang ditetapkan pada 2026.

Dinkes Pekanbaru mengakui capaian tersebut masih perlu ditingkatkan hingga akhir tahun. Penemuan kasus dilakukan melalui puskesmas, rumah sakit, klinik serta kegiatan penjangkauan di tengah masyarakat.

Hazli mengatakan evaluasi rutin juga dilakukan agar kasus yang sudah ditemukan tidak berhenti pada tahap diagnosis. Pasien harus mendapatkan pengobatan dan menyelesaikan terapi hingga tuntas.

Tahun Lalu Pekanbaru Justru Lampaui Target

Pekanbaru memiliki catatan berbeda pada 2025. Dinas Kesehatan berhasil menemukan 5.505 kasus TBC, melampaui target Kementerian Kesehatan sebanyak 4.838 kasus.Persentase capaian nya mencapai 114 persen.

Angka tersebut menjadi pembanding bagi capaian 2026 yang hingga 20 September baru berada pada posisi 68,2 persen.

Data ringkasnya:
Target 2025: 4.838 kasus
Ditemukan 2025: 5.505 kasus
Capaian: 114 persen
Target 2026: 5.280 kasus
Ditemukan hingga 20 September 2026: 3.605 kasus
Capaian sementara: 68,2 persen
Terduga TBC yang dijaring: 15.395 orang dari target 28.220 orang.

Meski demikian, jumlah kasus yang ditemukan bukan satu-satunya indikator keberhasilan penanganan TBC. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: apakah pasien menjalani pengobatan sampai selesai dan dinyatakan berhasil diobati.

Dinkes Kejar Keberhasilan Pengobatan 90 Persen

Dinkes Pekanbaru menargetkan treatment success rate atau tingkat keberhasilan pengobatan TBC mencapai 90 persen. “Kami menargetkan angka keberhasilan pengobatan atau treatment success rate (TSR) dapat mencapai target nasional sebesar 90 persen,” ujar Hazli.

Target itu penting karena pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan. Pasien tidak dianjurkan menghentikan obat sendiri meskipun gejala mulai membaik. Pengobatan yang tidak diselesaikan sesuai arahan tenaga kesehatan dapat memengaruhi keberhasilan terapi.

Karena itu, pekerjaan petugas kesehatan tidak selesai ketika menemukan pasien. Pemantauan hingga pengobatan tuntas menjadi bagian penting program pengendalian TBC. Puskesmas Sidomulyo Catat Keberhasilan 99 Persen

Di tingkat fasilitas kesehatan, sejumlah puskesmas di Pekanbaru menunjukkan capaian tinggi dalam program TBC pada 2025. Puskesmas Sidomulyo menempati peringkat pertama untuk kategori penemuan kasus TBC terbanyak.

Peringkat berikutnya ditempati:
Puskesmas Sidomulyo
Puskesmas Payung Sekaki
Puskesmas Rejosari

Sementara untuk keberhasilan pengobatan, sejumlah puskesmas mencatatkan capaian di atas target nasional.
Puskesmas RI Sidomulyo: 99 persen
Puskesmas Sapta Taruna: 98 persen
Puskesmas Sail: 97,4 persen
Puskesmas Langsat: 97,4 persen

Dinkes Pekanbaru memberikan penghargaan kepada fasilitas kesehatan tersebut sebagai bagian dari evaluasi program TBC. Capaian itu diharapkan bisa diterapkan lebih luas oleh fasilitas kesehatan lainnya di Pekanbaru.

Penemuan Kasus Jadi Kunci Eliminasi TBC 2030

Langkah Pekanbaru berada dalam konteks program yang lebih besar. Indonesia menargetkan eliminasi tuberkulosis pada 2030. Salah satu strategi yang diperkuat pemerintah adalah menemukan penderita sedini mungkin dan memeriksa orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien.

Tantangan nasional masih besar. Kementerian Kesehatan sebelumnya menyebut Indonesia menghadapi lebih dari satu juta kasus TBC per tahun dan masih menjadi salah satu negara dengan beban tuberkulosis tertinggi di dunia. Pada 2024, sebanyak 889 ribu kasus telah ternotifikasi secara nasional.

Karena itu, kasus yang belum ditemukan menjadi salah satu celah yang ingin dipersempit. Semakin cepat pasien diketahui, semakin cepat pula pengobatan dapat dilakukan.

Apa yang Perlu Diperhatikan Warga?

Masyarakat disarankan tidak mengabaikan keluhan yang mengarah pada TBC dan melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Perhatian terutama perlu diberikan ketika terdapat gejala yang menetap atau seseorang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.

Selain memeriksa orang yang mengalami keluhan, pemerintah kini juga menekankan pemeriksaan keluarga serta kontak dekat penderita sebagai bagian dari strategi nasional.

Dengan waktu sekitar tiga bulan menuju akhir 2026, tantangan Dinkes Pekanbaru tidak hanya mengejar target penemuan 5.280 kasus.

Pekerjaan yang lebih penting adalah memastikan mereka yang ditemukan mendapatkan diagnosis yang tepat, segera menjalani terapi, dan menuntaskan pengobatan.

Sebab dalam penanggulangan TBC, kasus yang berhasil ditemukan menjadi pintu masuk untuk menghentikan penularan yang sebelumnya bisa berlangsung tanpa diketahui. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *